My photo
Currently seeking therapy through literature. Wrote a novel once, Eccedentesiast (2013), and will proceed on writing casually. Don't take these writings seriously, don't let it question yourself.

Saturday, November 26, 2016

Jadi?

Aku berhasil menerima kepergianmu
yang tiba-tiba.

Dengan jerih payah, satu demi satu hari
ku coba cari ceria di dunia lain yang
sendiri,
tanpa kamu.

Air mata yang merendam,
membuatku berenang dalam tentram.

Tiba-tiba saja suatu siang terang yang indah,
kamu
memutuskan
kembali
dengan sesal di
matamu.

"Kasihilah sesamamu manusia"
itu yang kupelajari.
Jadi?

Friday, November 25, 2016

Friendly Reminder

Kamu boleh mengeluh lelah.
Hati boleh bercerita kisah.
Boleh percaya boleh tidak,
iman itu bukan Tuhan.
Percaya yang kamu percaya,
asal jangan buat dusta.

Percaya boleh siapa saja,
asal syukur tiada tara.

Lupa Nafas

Lari yang aku tau hanya lari
dikejar waktu jadi aku lari terus
lari.

Takut waktunya kurang, takut
ketinggalan, takut kehilangan lagi.
Jadi aku membengkang dalam bentuk lari saja terus
lari lagi.

Kesempatannya hanya sekali takut tidak kemari.
Jadi aku lari lagi menghampiri karena takut pergi lagi.

Akhirnya aku berhenti
Semua sibuk berakhir, dan aku sangat sendiri sampai terisak sudah habis nafasku lari;
Kesana kemari.
Jadi kadang yang baik jangan berlari, tapi jalan kaki.

Wednesday, November 23, 2016

Menerima yang Baik

Anakku,
Tidakkah kamu sadar bahwa hidupmu adalah hidup terindah yang dapat kamu miliki? Hidupmu adalah hidup terbaik yang dikaruniakanKu kepadamu! Yang harus kamu harus lakukan adalah percaya, dan berharap dalam namaKu.

Anakku,
Akulah Semesta Alam, dalam dimensi sekian bekerja sama dengan waktu untuk memperkenalkanmu dengan Syukur. Lihatlah dibalik matamu, bahwa tujuan akhirKu adalah tawa mu! Bangga membanjiri keberadaanKu saat melihatmu kuat, melawan derasnya arus air matamu, tenggelam dalam kelamnya dunia, namun mau belajar berenang?

Anakku,
Sekian kali ku kirim hujan sebagai pertanda tangisku melihatmu memanjatkan bisikkan kematian melalui bibirmu. Tidakkah hidupmu sudah Kubuat indah dan mudah dibandingkan mereka? Ku kirimkan bayang mereka kepadamu agar terlihat oleh bola matamu betapa beruntungnya kamu diantara lainnya. Berhentilah menghadap langit karena disitulah rumahKu, dan rumahmu di bumi dimana kamu memijakkan kakimu. Ku kirimkan semua keindahan dan kebaikkan agar dibuat paham dirimu bahwa tidak seharusnya keluh keluar dari hatimu.


Berhentilah melihat taman mereka, dan perhatikan tamanmu. Pupuklah sekerumunan mawar itu dengan jerih payahmu, lihatlah mereka tumbuh menghias rumahmu. Terimalah bukan yang benar sesuai kehendakmu, tapi yang baik untukmu sesuai kehendakKu. Karena semua Kulakukan untukmu atas dasar Cinta Kasih seorang Bapak kepada anaknya. Berbahagialah kamu! Serahkanlah lelah dan bebanmu, akan Kubuat mudah jalanmu kini dan sepanjang masa.

Tuesday, November 22, 2016

Cinta Sendiri

Harinya baru lagi; bunga, matahari, dan
aku penuh semedi.
Rindumu mulai ku buang-buang perlahan.
Harum pelukanmu ku hembuskan
bersama kelopak waktu yang di lampau.

Tak butuh kata-katamu untuk paham kalau
aku layak dicintai. Ku putuskan bukan
kamu lagi titik bahagia hariku, tapi aku.
Parfumku, pakaianku, ronaku,
biar sekali ini dunia berputar dalam porosku!

Ku hias diriku seindah mampu, agar saat
kita bertemu, dengki ini bertukar posisi.
Dari hatiku, ke hatimu.


Aku bersyukur atas diriku.

Monday, November 21, 2016

Syukur Kepada Allah

Ombak yang berlinang mencuci jiwa dan ragaku di malam kamu pergi akhirnya kering. Ku putuskan agar setiap bulirnya menjadi berlian untuk memperkaya dewasaku. Kali ini pagi yang datang mengetuk pintu (bukan lagi kamu). Mataku bangun dari istirahat yang lebih terasa seperti lima menit dari pada enam jam. Bayangan di kaca menertawaiku keras karena yang ia liat adalah sebuah pasang mata yang sembab seperti digigit walang sangit!

Hatinya muram sekali, hampir terasa malam dari pada pagi, apa karena tirai jendela masih tertutup? Lemah badan ini seperti lunglai dalam ganja, tak bisa kemana-mana atau tak mau kemana-mana? Matanya yang ruam itu seperti takut untuk beranjak, takut bertemu kekasih yang pergi tanpa pamit itu. Tapi kewajiban bukannya harus ditepati seperti janji? Jadi ku putuskan untuk pergi dan meninggalkan zona amanku (seperti kamu meninggalkan zona nyamanmu; aku).

Sialnya, langit bercermin kepada hati hingga pagi bermimik malam dalam mendung. Ada apa dengan dunia ini!? Seakan mereka semua berkomplot untuk menjoroganku kedalam jurang gelap tanpa mau aku kembali ke permukaan. Bisikkan kecewa membuatku terlena hingga tak kuasaku menahan rasa di pinggir jalan menuju kampus, menangis terisak-isak seperti wanita gila yang biasanya ku papas sedari bioskop bersamamu. Mungkin inilah yang dirasanya sampai-sampai jadi gila!

Ku jalani saja hari ini tanpa keinginan dan harapan, sampai seorang teman berkata “untuk apa lemah kalau bisa kuat? Toh hari yang buruk bukan berarti hidupmu buruk kan? Tak selamanya sakit ini akan menetap,” dan tersentaklah diriku hingga dibawaku ke awal hari saat bangun pagi tadi. Tiba-tiba ku ingat langitnya cerah, biru menawan, tidak buas tapi bersahabat. Anginnya membuai badan lelah ini keluar dari zona aman. Setiap individu masih hidup dalam kisahnya dan dunia masih berputar seperti biasa. Hidup masih berjalan meski kamu dan aku berubah, membuatku sadar bahwa ini semua bukan kiamat.

Mataku tiba-tiba sembuh dan terbuka lebar pada karunia Ilahi yang penuh rahasia. Awam sepertiku tak akan bisa melihat indahnya ‘cobaan’ jika tidak memilih untuk merasakannya. Namun seperti takdir bertemu dengan ucapan kawan seperti itu, hingga akhirnya ku temukan syukurku pada hari baru ini. Memang rasanya berat mengalami perubahan dari rutinitas dua tahunku, tapi baru bukan berarti buruk, dan baru akan menjadi lama di suatu masa yang datang. Jadi ku rasa memang pantas untukku lemah dan sedih, memeluk erat asa hari ini, namun bukan artinya aku menyerah dengan keberadaan.

Rasa sakit dan kecewa memang cenderung memakan kesadaran sehingga tenggelam dalam waktu, membiarkan rasa itu menjadi parasit yang membuat induknya mati membeku. Tapi ku pilih untuk maju, dan bukan mati beku dalam tanya “kenapa ini semua terjadi?” Dengan hati lemah yang bertekat menjadi kuat di suatu saat, aku langkahkan kakiku menghadapi hari baru tanpa lagi rasa takut. Ketika parasitku kembali menggerogoti jiwa, ku tatap langitnya dan batinku berbisik “syukur kepada Allah atas rasa sakit ini,” karena pahamku berkata bahwa dari benih sementara akan tumbuh manusia yang lebih tegar dan kaya. Syukur kecil yang ku bisik membuat rumput terlihat lebih hijau dan kicauan burung merdu menenangkan. Mungkin kadang, kerikil kecil seperti ini dibutuhkan untuk ingat siapa yang ada di Atas sana dan berhenti iri hati pada rencana dan angan.


Aku bersyukur kamu pergi tanpa pamit.

Tertulis: Hari satu.

Sunday, November 20, 2016

Tanpa Pamit

Untukku waktu berhenti saat kamu pergi tanpa pamit.
Semudah itu kamu memalingkan jiwa,
dari yang tadinya kamu anggap pelengkap.
Kadang aku pikir kamu letak onarnya,
hanya jariku yang mencarimu untuk menunjuk,
memaki dalam bisikan rindu.

‘Munafik!’ Kataku, apa bila aku berhenti menunggu.
Bahkan darahku tahu untuk siapa dia mengalir,
Kalau bukan kamu?
Tapi ketika kamu pergi tanpa pamit di hari itu,
Seluruh waktu yang terbuang, memutuskan kembali dan
menyambit keberadaanku.

Jariku akhirnya memalingkan tunjukkannya,
menyentuh rintihan malam yang
dengan sendiri menyalahkan siapa lagi kalau bukan
diri ini. Bukan lagi kamu,
atau waktu. Tapi aku.

Sekarang dalam sepuluh hari aku dalam sebuah misi,
memaafkan manusia yang hidup di dalamku,
atas kesalahannya membiarkanmu pergi,
tanpa sua, tanpa pamit.
Menerima bahwa nyatanya onar bukan di yang pergi,

tapi dari yang ditinggal sendiri dengan jari ini.